-->
    BLANTERORBITv102

    Tren De-dolarisasi: Mungkinkah Mata Uang Global Mengalami Pergeseran?

    Selasa, 03 Februari 2026

    Baca Juga


    Salam Bolpenas.com

    Dunia sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam sistem keuangan internasional. Selama hampir satu abad, Dolar Amerika Serikat (USD) telah menjadi raja yang tak tertandingi—digunakan dalam mayoritas perdagangan global, cadangan devisa, dan transaksi komoditas. Namun, memasuki tahun 2026, istilah "De-dolarisasi" bukan lagi sekadar teori akademik, melainkan strategi aktif yang dijalankan oleh banyak blok ekonomi besar.

    Mengapa Dunia Mulai Menjauhi Dolar?

    Setidaknya ada tiga faktor utama yang mempercepat tren ini hingga mencapai puncaknya di awal 2026:

    1. Senjatisasi Keuangan: Penggunaan sanksi ekonomi berbasis dolar terhadap negara-negara tertentu (seperti pembekuan aset bank sentral Rusia) telah menjadi alarm bagi negara lain. Mereka menyadari bahwa ketergantungan pada USD berarti memberikan kontrol politik kepada Washington atas kedaulatan ekonomi mereka.

    2. Ketidakpastian Ekonomi AS: Di awal 2026, US Dollar Index (DXY) menunjukkan tren pelemahan ke level di bawah 97.0. Kebijakan suku bunga Federal Reserve yang fluktuatif serta utang publik AS yang mencapai rekor tertinggi memicu kekhawatiran akan stabilitas jangka panjang greenback.

    3. Kebangkitan BRICS+: Aliansi yang kini semakin luas (termasuk anggota baru dari Timur Tengah dan Afrika) secara agresif mendorong penggunaan mata uang lokal. Pada Januari 2026, negara-negara BRICS mengumumkan target untuk meningkatkan penyelesaian perdagangan internal dalam mata uang non-dolar dari 35% menjadi 50%.

    Alternatif yang Muncul: Yuan, Emas, dan CBDC

    Upaya menggantikan dolar tidak bergantung pada satu mata uang tunggal, melainkan diversifikasi ke beberapa instrumen:

    • Yuan Tiongkok (CNY): Melalui sistem pembayaran Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), lebih dari 1.700 bank di seluruh dunia kini telah terintegrasi untuk melakukan transaksi langsung dalam Yuan.

    • Emas sebagai Jangkar: Banyak bank sentral, termasuk di Asia dan Timur Tengah, menimbun emas dalam jumlah masif sebagai aset safe haven alternatif. Data menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral global mencapai puncaknya dalam satu dekade terakhir pada semester pertama 2025.

    • Mata Uang Digital (CBDC): Pengembangan mata uang digital bank sentral yang saling terhubung (seperti mBridge) memungkinkan negara-negara melakukan transaksi lintas batas secara instan tanpa perlu melalui sistem perbankan koresponden yang berbasis dolar.

    Tantangan: Mungkinkah Dolar Benar-Benar Runtuh?

    Meski de-dolarisasi sedang berlangsung, meruntuhkan dominasi total dolar tidaklah mudah. Dolar masih menguasai lebih dari 50% transaksi global dan tetap menjadi mata uang yang paling likuid di dunia.

    Tantangan bagi mata uang alternatif seperti Yuan adalah masalah konvertibilitas dan transparansi. Sementara itu, ide "Mata Uang Bersama BRICS" masih menghadapi kendala sinkronisasi ekonomi antar anggotanya yang sangat beragam.

    Berikut adalah pengembangan draf artikel yang lebih mendalam mengenai bagian "Tantangan: Mungkinkah Dolar Benar-Benar Runtuh?". Bagian ini berfungsi untuk memberikan perspektif yang berimbang agar artikel Anda tidak terlihat berat sebelah.

    Tantangan: Mungkinkah Dolar Benar-Benar Runtuh?

    Meskipun narasi mengenai de-dolarisasi semakin menguat di panggung politik global, pertanyaan besarnya tetap ada: Apakah dolar benar-benar bisa runtuh dan digantikan? Sejarah membuktikan bahwa menggeser mata uang cadangan dunia bukanlah perkara mudah. Ada beberapa benteng pertahanan "Greenback" yang sulit ditembus oleh para pesaingnya.

    1. Likuiditas dan Kedalaman Pasar Modal

    Dolar AS didukung oleh pasar keuangan yang paling dalam, paling likuid, dan paling transparan di dunia. Investor global dapat membeli atau menjual aset bernilai miliaran dolar dalam hitungan detik tanpa mengguncang harga pasar secara signifikan. Hingga saat ini, belum ada pasar modal lain—baik itu di Tiongkok maupun Uni Eropa—yang memiliki tingkat fleksibilitas dan kepercayaan publik sebesar pasar modal Amerika Serikat.

    2. Efek Jaringan (The Network Effect)

    Mata uang berfungsi seperti media sosial; semakin banyak orang yang menggunakannya, semakin tinggi nilainya. Saat ini, sebagian besar kontrak minyak, komoditas internasional, dan utang luar negeri negara-negara berkembang masih dipatok dalam dolar. Mengubah seluruh infrastruktur sistem pembayaran global dari SWIFT ke sistem alternatif memerlukan waktu puluhan tahun dan biaya yang sangat besar bagi ribuan institusi keuangan di seluruh dunia.

    3. Masalah Konvertibilitas Pesaing Utama

    Yuan Tiongkok sering disebut sebagai penantang terkuat. Namun, Tiongkok masih menerapkan kontrol modal yang ketat. Agar sebuah mata uang menjadi cadangan global sejati, mata uang tersebut harus "bebas" mengalir keluar-masuk negara tanpa batasan pemerintah. Selama Beijing tetap mempertahankan kendali ketat atas aliran modal untuk menjaga stabilitas domestik, Yuan akan sulit meyakinkan dunia untuk beralih sepenuhnya dari dolar.

    4. Kurangnya Alternatif yang Solid

    Blok BRICS memang sedang menggodok ide "mata uang bersama". Namun, menyatukan ekonomi yang sangat beragam—seperti India yang demokratis, Tiongkok yang sentralistik, dan Brasil yang fluktuatif—dalam satu kebijakan moneter adalah tantangan teknis yang masif. Tanpa adanya satu entitas politik yang bersatu (seperti Uni Eropa dengan Euro-nya), menciptakan mata uang pesaing dolar hanyalah sebuah ambisi yang sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

    Kesimpulan: Bukan Runtuh, Tapi Berbagi Panggung

    Alih-alih "runtuh" atau menghilang, skenario yang paling mungkin terjadi adalah erosi dominasi. Dolar mungkin tidak lagi memegang 70% cadangan devisa dunia seperti di masa lalu, melainkan turun ke angka 40-50%.

    Dunia kemungkinan besar akan bergerak menuju sistem Multipolaritas Moneter, di mana dolar tetap menjadi yang utama, namun harus berbagi panggung dengan Yuan, Euro, emas, dan mata uang digital regional lainnya. Kejatuhan total dolar hanya akan terjadi jika terjadi keruntuhan sistemik pada ekonomi Amerika Serikat sendiri, bukan sekadar karena munculnya pesaing baru.