-->
    BLANTERORBITv102

    Ramadan 2026: Harga Pangan Aman atau Bikin Kantong Jebol? Cek Strategi Pemerintah!

    Minggu, 08 Februari 2026

    Baca Juga


    Salam Bolpenas.com

    Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan kembali menjadi prioritas utama pemerintah. Dalam koordinasi lintas kementerian, pemerintah telah menyiapkan strategi komprehensif untuk memastikan masyarakat dapat beribadah dengan tenang tanpa terbebani lonjakan harga kebutuhan pokok.

    Biasanya dua hal yang paling sering dibahas di grup keluarga adalah: kapan mulai puasa dan kenapa harga cabai mulai naik. Memasuki tahun 2026, tantangan ketahanan pangan kita memang makin dinamis. Tapi tenang, di balik layar, pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan 'skenario' besar agar dapur kita tetap ngebul tanpa bikin dompet nangis. Artikel ini bakal bedah strategi nasional buat jagain stok pangan kita tetap aman sampai Idulfitri nanti. Check it out!

    Stabilitas harga pangan selalu menjadi isu krusial setiap kali kita mendekati bulan suci Ramadan. Lonjakan permintaan yang drastis sering kali menjadi ujian bagi ketahanan rantai pasok nasional. Tahun ini, pemerintah mengambil langkah lebih proaktif dengan mengombinasikan kekuatan stok fisik dan teknologi digital. Dalam ulasan berikut, kita akan menelaah bagaimana strategi nasional bekerja dalam mengamankan kebutuhan pokok masyarakat agar tetap terjangkau dan tersedia merata di seluruh pelosok negeri.

    Berikut kami paparkan strategi pemerintah mengenai hal ini:

    1.Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP)

    Langkah pertama dalam strategi nasional ini adalah memastikan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) berada pada level aman. Melalui Perum Bulog, pemerintah telah mempercepat penyerapan hasil panen domestik dan mengatur manajemen stok untuk komoditas utama seperti beras, jagung, dan kedelai.

    • Optimalisasi Gudang: Pemanfaatan teknologi Cold Storage untuk memperpanjang masa simpan komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah.

    • Impor Terukur: Melakukan impor hanya pada komoditas yang mengalami defisit produksi domestik guna menjaga keseimbangan harga di tingkat petani dan konsumen.

    2. Digitalisasi Monitoring Harga (SP2KP)

    Untuk mencegah spekulasi pasar, pemerintah memaksimalkan penggunaan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

    • Data Real-Time: Memantau pergerakan harga di ratusan pasar tradisional secara harian.

    • Early Warning System: Memberikan sinyal peringatan dini jika terjadi kenaikan harga di atas 10% dari Harga Eceran Tertinggi (HET) di suatu wilayah, sehingga intervensi seperti Operasi Pasar dapat segera dilakukan.

    3. Kelancaran Distribusi dan Logistik

    Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah biaya logistik yang tinggi. Menjelang Ramadan, pemerintah fokus pada:

    • Tol Laut dan Jalur Logistik Khusus: Memprioritaskan kapal pengangkut logistik pangan agar tidak terjadi hambatan di pelabuhan.

    • Subsidi Ongkos Angkut: Memberikan insentif transportasi dari daerah surplus (produsen) ke daerah defisit (konsumen) untuk memangkas disparitas harga antarwilayah.

    4. Penegakan Hukum melalui Satgas Pangan

    Keamanan rantai pasok tidak lepas dari peran penegakan hukum. Satgas Pangan Polri dikerahkan untuk melakukan pengawasan ketat di gudang-gudang distributor.

    "Kami tidak akan segan menindak tegas oknum yang mencoba melakukan penimbunan barang atau praktik mafia pangan yang merugikan masyarakat luas," tegas perwakilan Satgas Pangan dalam koordinasi pekan ini.

    Selain itu, pemerintah juga menguatkan cadangan pangan pemerintah mengenai target ambang batas stok aman:

    Detail Estimasi Target Stok Nasional Ramadan 2026

    Untuk menjamin keamanan konsumsi nasional selama Ramadan hingga Idul Fitri, Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan target ambang batas stok aman sebagai berikut:

    • Beras: Target stok cadangan di gudang Bulog dipatok minimal 1,2 juta ton. Jumlah ini dianggap cukup untuk melakukan intervensi pasar melalui program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) jika terjadi gejolak harga di tingkat pengecer.

    • Daging Sapi & Kerbau: Pemerintah menyiapkan kuota pengadaan sekitar 100.000 ton daging beku (impor maupun lokal) untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasanya mencapai puncaknya pada H-3 Lebaran.

    • Minyak Goreng: Melalui skema Domestic Market Obligation (DMO), pemerintah memastikan ketersediaan Minyakita sebanyak 450.000 ton per bulan selama periode HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional).

    • Gula Pasir: Cadangan stok nasional ditargetkan berada di angka 500.000 ton untuk menjaga stabilitas harga di level Rp17.500 – Rp18.500 per kilogram, tergantung wilayah.

    Meskipun tiap tahun ada kenaikan permintaan, pemerintah tahun 2026 ini lebih siap dengan kombinasi stok yang gede dan pengawasan teknologi. Jadi, kita bisa lebih fokus ibadah tanpa harus pusing mikirin harga telur yang naik turun kayak mood pas lagi puasa.