Baca Juga
Salam Bolpenas.com
MAROS, SULAWESI SELATAN – Kabut tebal masih menyelimuti kawasan karst Leang-Leang, Kabupaten Maros, saat deru helikopter Caracal milik TNI AU memecah kesunyian pagi. Di bawahnya, bentang alam yang megah namun mematikan menjadi saksi bisu tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan nomor registrasi PK-THT. Operasi pencarian korban yang kini memasuki hari keempat telah bertransformasi menjadi salah satu operasi SAR paling menantang dalam sejarah penerbangan modern di Sulawesi Selatan.
Kronologi Singkat dan Titik Benturan
Pesawat yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 13.37 WITA. Setelah dilakukan penyisiran udara yang intensif, puing-puing pesawat ditemukan dalam kondisi hancur berkeping-keping di dinding vertikal Gunung Bulusaraung, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Pesawat tersebut mengalami kecelakaan yang diklasifikasikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), di mana pesawat menabrak lereng gunung pada ketinggian sekitar 5.000 kaki. Posisi puing yang tersebar di kemiringan hampir 90 derajat menjadikan proses evakuasi bukan sekadar misi pencarian, melainkan operasi pendakian teknis tingkat tinggi.
Medan Vertikal: Musuh Utama Tim SAR Gabungan
Direktur Operasi Basarnas menyatakan bahwa lokasi jatuhnya ATR 42-500 ini adalah "neraka" bagi tim evakuasi. Ada tiga faktor utama yang membuat operasi di Leang-Leang Maros ini begitu sulit:
Topografi Karst yang Terjal: Kawasan Maros-Pangkep dikenal dengan pegunungan karst (kapur) yang memiliki tebing-tebing tajam dan jurang sedalam 200 hingga 500 meter. Tim SAR harus menggunakan teknik vertical rescue dengan tali temali (rope access) untuk mencapai titik jenazah.
Cuaca yang Tak Menentu: Di ketinggian 5.000 kaki, cuaca di Bulusaraung dapat berubah dari cerah menjadi badai petir hanya dalam hitungan menit. Kabut seringkali "menelan" lokasi kejadian, memaksa helikopter pengangkut untuk kembali ke posko di Bandara Sultan Hasanuddin demi keselamatan.
Kondisi Pesawat yang Terfragmentasi: Benturan keras membuat badan pesawat hancur menjadi bagian-bagian kecil yang tersangkut di pepohonan dan celah batu. Hal ini menyulitkan identifikasi awal posisi korban di antara tumpukan logam.
Progres Evakuasi: Menjemput Harapan Keluarga
Hingga Selasa (20/01/2026), tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan pecinta alam telah berhasil mengevakuasi dua jenazah dari lokasi kejadian. Proses pengangkatan jenazah dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan sistem hoisting dari helikopter, karena tidak ada lahan datar yang cukup luas bagi helikopter untuk mendarat di dekat titik jatuh.
Di Posko DVI (Disaster Victim Identification) yang didirikan di RS Bhayangkara Makassar, suasana haru menyelimuti keluarga korban. Tim medis bekerja tanpa henti mencocokkan data DNA dan rekam medis gigi untuk memastikan identitas setiap korban yang berhasil dibawa turun.
"Kami bekerja melawan waktu. Setiap menit sangat berharga karena kondisi jenazah di alam terbuka cepat mengalami perubahan, namun kami juga tidak bisa mengabaikan keselamatan personel di tebing yang sangat rawan longsor ini," ujar salah satu anggota tim evakuasi dari Basarnas.
Integrasi Teknologi Digital dalam Pencarian
Meskipun medan fisik sangat berat, operasi kali ini dibantu oleh teknologi terbaru. Tim SAR menggunakan Drone Thermal untuk memetakan sebaran puing dan mencari tanda-tanda panas yang mungkin berasal dari korban yang terlempar jauh dari badan utama pesawat. Selain itu, penggunaan citra satelit resolusi tinggi membantu tim menentukan jalur pendakian darat yang paling aman bagi personel pendukung yang membawa logistik.
Penyelidikan KNKT: Mencari Jawaban di Balik Tragedi
Seiring dengan upaya evakuasi korban, tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga mulai bergerak untuk mengamankan kotak hitam (black box). Penemuan FDR (Flight Data Recorder) dan CVR (Cockpit Voice Recorder) menjadi kunci untuk menjawab mengapa pesawat yang sedang dalam kondisi laik terbang tersebut bisa berada di jalur yang salah hingga menabrak dinding gunung.
Dugaan awal mengarah pada kombinasi gangguan teknis pada instrumen navigasi dan microburst (downburst lokal) yang umum terjadi di kawasan pegunungan Maros, namun kepastian tersebut masih menunggu pembacaan data digital dari kotak hitam.
Penutup: Duka di Balik Megahnya Karst Maros
Tragedi ATR 42-500 di Leang-Leang ini menjadi pengingat pahit akan risiko penerbangan di wilayah dengan topografi ekstrem. Di balik keindahan tebing-tebing kapur Maros yang mendunia, tersimpan duka mendalam bagi keluarga kru dan penumpang yang menjadi korban. Masyarakat kini hanya bisa berharap agar seluruh korban dapat segera dievakuasi dan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka untuk peristirahatan terakhir yang layak.

0 comments