Baca Juga
Karya ini dibuat oleh Danang Adi Widodo Putro, S.H.
Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Pringsurat
ABSTRAK
Artikel ini mengkaji keutamaan hari Asyura pada
tanggal 10 Muharram dalam perspektif Islam berdasarkan dalil-dalil dari
Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Muharram merupakan bulan pertama dalam
kalender Hijriyah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang
dimuliakan Allah SWT. Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam
syariat Islam, dengan sejarah panjang yang dimulai sejak masa Nabi Musa AS
hingga Nabi Muhammad SAW. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman yang
komprehensif dan berbasis dalil yang shahih mengenai amalan-amalan yang
dianjurkan pada hari tersebut, khususnya puasa Asyura yang dapat menghapus dosa
setahun yang lalu, serta memurnikan pemahaman umat dari praktik-praktik bid'ah
yang tidak memiliki landasan syariat. Metode yang digunakan adalah kajian
pustaka (library research) dengan mengacu pada kitab-kitab hadits primer
seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan karya-karya
ulama terpercaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa amalan utama yang shahih pada
10 Muharram adalah puasa, dengan dianjurkan menambah puasa tanggal 9 (Tasu'a)
atau 11 Muharram untuk membedakan dari tradisi kaum Yahudi.
Kata Kunci: Asyura, 10 Muharram, Puasa
Asyura, Amalan Shahih, Bulan Haram, Tasu'a
Keywords: Ashura, 10th Muharram, Ashura Fast, Authentic
Practices, Sacred Month, Tasu'a
I. PENDAHULUAN
Bulan Muharram adalah bulan pembuka tahun dalam
kalender Hijriyah sekaligus salah satu dari empat bulan haram (bulan-bulan yang
dimuliakan) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah
At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dan
di antaranya terdapat empat bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa keempat
bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang
memiliki keutamaan luar biasa, yaitu tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan
nama 'Hari Asyura'. Kata Asyura berasal dari bahasa Arab 'asyara' yang berarti
sepuluh, merujuk pada hari ke-10 dari bulan Muharram. Hari ini memiliki nilai
historis dan spiritual yang sangat tinggi dalam Islam, karena berkaitan dengan
peristiwa-peristiwa agung dalam sejarah para nabi dan rasul.
Artikel ini hadir sebagai panduan ilmiah bagi para
penyuluh agama, da'i, dan masyarakat muslim pada umumnya untuk memahami
keutamaan hari Asyura secara benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Tidak
jarang muncul praktik-praktik keagamaan yang dikaitkan dengan Asyura namun
tidak memiliki landasan syariat yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan
klarifikasi dan penjelasan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah
SAW yang shahih.
1.1 Rumusan Masalah
Artikel ini berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apa saja keutamaan
bulan Muharram dan hari Asyura berdasarkan dalil-dalil shahih?
2. Bagaimana sejarah dan
latar belakang pensyariatan puasa Asyura?
3. Amalan-amalan apa
saja yang shahih pada hari Asyura?
4. Bagaimana cara
memurnikan pemahaman umat dari amalan-amalan yang tidak memiliki dasar syariat?
1.2 Tujuan Penulisan
Artikel ini bertujuan untuk:
5. Memberikan pemahaman
yang benar dan komprehensif tentang keutamaan hari Asyura.
6. Menjelaskan
amalan-amalan yang memiliki landasan dalil shahih pada hari Asyura.
7. Menjadi referensi
ilmiah bagi penyuluh agama dalam menyampaikan materi tentang Muharram.
8. Meluruskan
kesalahpahaman yang beredar di masyarakat terkait amalan-amalan pada hari
Asyura.
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN
LANDASAN DALIL
2.1 Keutamaan Bulan Muharram dalam Al-Qur'an
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah
(9): 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعٌ حُرُمٌ
(Q.S. At-Taubah: 36)
Artinya:
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat
bulan haram (yang dimuliakan)."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya
menjelaskan bahwa keempat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah,
Muharram, dan Rajab. Keistimewaan bulan-bulan ini adalah larangan untuk
berperang di dalamnya (kecuali dalam kondisi darurat) serta keutamaan ibadah
yang berlipat ganda. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Juz IV, hlm.
146).
2.2 Keutamaan Muharram dalam Hadits Shahih
Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan puasa di
bulan Muharram:
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
"Puasa
yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram (Syahrullah/Bulan
Allah)." (H.R. Muslim, No. 1163; dari Abu Hurairah RA)
Penyebutan bulan Muharram dengan istilah 'Syahrullah'
(bulan Allah) menunjukkan keistimewaan dan kemuliaan bulan ini di atas
bulan-bulan lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa penisbatan bulan Muharram
kepada Allah adalah penisbatan kemuliaan (idhafat tasyrif), sebagaimana
penyebutan 'Baitullah' untuk Ka'bah. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz VIII,
hlm. 55).
III. SEJARAH DAN LATAR BELAKANG HARI ASYURA
3.1 Asyura pada Masa Nabi Musa
AS
Ketika Rasulullah SAW tiba
di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10
Muharram. Rasulullah SAW pun menanyakan alasan mereka berpuasa, sebagaimana
diriwayatkan dalam hadits yang shahih:
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: "Nabi SAW datang ke Madinah dan
mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya kepada
mereka: 'Hari apa ini kalian berpuasa?' Mereka menjawab: 'Ini adalah hari yang
agung, pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan
menenggelamkan Fir'aun beserta pasukannya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari
ini sebagai bentuk syukur, maka kami pun berpuasa.' Kemudian Rasulullah SAW
bersabda: 'Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.'
Maka Rasulullah berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu." (H.R.
Bukhari, No. 2004 dan Muslim, No. 1130)
Hadits ini menegaskan bahwa puasa Asyura memiliki
akar sejarah yang panjang sejak masa Nabi Musa AS, dan Islam meneguhkan kembali
tradisi mulia ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat keselamatan yang Allah
berikan kepada Nabi Musa dan Bani Israil.
3.2 Asyura pada Masa Jahiliyah dan Awal Islam
Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa orang-orang Quraisy
pada zaman jahiliyah juga telah berpuasa pada hari Asyura, dan Rasulullah SAW
pun berpuasa pada hari itu sebelum Islam datang. Ketika beliau tiba di Madinah,
beliau tetap berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Setelah
turun kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah SAW menjadikan puasa Asyura sebagai
puasa yang bersifat sunnah (tidak wajib), sehingga siapa yang mau boleh
berpuasa dan siapa yang tidak mau boleh meninggalkannya. (H.R. Bukhari, No.
2002 dan Muslim, No. 1125).
3.3 Peristiwa-Peristiwa Agung pada Hari Asyura
Para ulama menyebutkan sejumlah peristiwa agung yang terjadi pada
hari Asyura berdasarkan riwayat-riwayat yang kuat, di antaranya:
•
Allah SWT
menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah
Laut Merah, dan menenggelamkan Fir'aun beserta tentaranya.
•
Allah SWT
menerima taubat Nabi Adam AS pada hari ini (berdasarkan sebagian riwayat yang
perlu dikritisi sanadnya secara berhati-hati).
•
Nabi Nuh
AS beserta orang-orang beriman diselamatkan dari banjir besar, dan bahtera Nuh
berlabuh di Bukit Judi (berdasarkan riwayat Ibnu Abbas yang dinilai mursal).
Catatan
penting: Sebagian riwayat tentang peristiwa-peristiwa tersebut di atas perlu
diteliti tingkat keshahihannya. Yang paling kuat berdasarkan hadits-hadits
dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah peristiwa penyelamatan Nabi Musa
AS dari Fir'aun. Ulama hadits seperti Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya
'Latha'if Al-Ma'arif' menegaskan hal ini.
IV. KEUTAMAAN PUASA ASYURA DAN
DALIL-DALILNYA
4.1 Keutamaan Menghapus Dosa
Setahun
Salah satu keutamaan
terbesar puasa Asyura adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim:
صيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفّر السّنة التي قبله
"Puasa
pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah bahwa itu dapat menghapus dosa
setahun yang lalu." (H.R. Muslim, No. 1162; dari Abu Qatadah RA)
Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang dimaksud adalah
dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Adapun dosa-dosa besar hanya dapat
dihapus dengan taubat nasuha. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: 'Ini adalah
penghapusan dosa-dosa kecil, dan ini adalah keistimewaan yang sangat agung.'
(An-Nawawi, Al-Majmu', Juz VI, hlm. 381).
4.2 Puasa Asyura Sebagai Puasa Sunnah Terbaik Setelah
Ramadhan
Rasulullah SAW menjadikan puasa Asyura sebagai puasa
sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan dalam riwayat dikatakan bahwa beliau SAW
sangat bersemangat dalam melaksanakan puasa ini. Ibnu Abbas RA berkata:
"Aku
tidak pernah melihat Nabi SAW sangat bersemangat untuk berpuasa pada suatu hari
yang melebihi hari Asyura ini dan pada bulan Ramadhan." (H.R. Bukhari, No. 2006 dan Muslim, No.
1132)
V. AMALAN-AMALAN SHAHIH PADA
HARI ASYURA
5.1 Puasa 10 Muharram (Asyura)
Puasa pada hari Asyura
adalah amalan utama yang paling shahih dan paling dianjurkan. Hukumnya adalah
sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Puasa ini dapat dilakukan
oleh setiap muslim yang mampu, dan keutamaannya telah dijelaskan dalam
hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.
5.2 Puasa Tasu'a (9 Muharram) -
Sangat Dianjurkan
Rasulullah SAW menganjurkan
untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram bersama puasa Asyura, sebagaimana
tertuang dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:
لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع والعاشر
"Apabila aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa
pada hari kesembilan (bersama hari kesepuluh)." (H.R. Muslim, No. 1134)
Para ulama menjelaskan
hikmah penambahan puasa tanggal 9 Muharram adalah untuk menyelisihi
(mukhalafah) kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam 'Latha'if Al-Ma'arif' menyebutkan bahwa
terdapat tiga tingkatan puasa Asyura: yang paling sempurna adalah berpuasa tiga
hari (9, 10, 11 Muharram), kemudian berpuasa dua hari (9 dan 10), dan yang
paling minimal adalah berpuasa pada tanggal 10 saja.
5.3 Puasa Tanggal 11 Muharram
Sebagian ulama seperti Imam
Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Qudamah menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal
11 Muharram juga, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan
Al-Baihaqi: 'Puasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang
Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.' Meskipun hadits ini
diperdebatkan keshahihannya, namun berpuasa tanggal 11 Muharram sebagai
pelengkap tidaklah mengapa berdasarkan kaidah ihtiyath (kehati-hatian) dalam
beribadah.
5.4 Memperbanyak Ibadah dan Dzikir
Selain puasa, pada hari Asyura dianjurkan untuk
memperbanyak amalan-amalan ibadah lainnya secara umum, mengingat bulan Muharram
adalah bulan yang mulia. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: 'Puasa yang paling
utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.' (H.R. Muslim,
No. 1163). Amalan tersebut meliputi shalat sunnah, tilawah Al-Qur'an,
bersedekah, berdzikir, dan berdoa.
5.5 Memperluas Nafkah bagi Keluarga
Terdapat hadits yang menyebutkan keutamaan memperluas
pemberian nafkah kepada keluarga pada hari Asyura:
"Barangsiapa
yang melapangkan (menambah) nafkah bagi keluarganya pada hari Asyura, maka
Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu." (H.R. Al-Baihaqi
dalam Syu'ab Al-Iman, dan dishahihkan oleh sebagian ulama seperti Sufyan
Ats-Tsauri)
Catatan: Hadits tentang melapangkan nafkah keluarga
pada hari Asyura memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan
(syawahid). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam 'Tabyin Al-'Ujab' menyatakan
bahwa hadits ini memiliki jalur yang banyak meski masing-masing lemah, namun
ketika dikumpulkan bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat hasan li
ghairihi. Namun sebagian ulama lain seperti Syaikh Al-Albani mendhaifkannya.
Oleh karena itu, mengamalkannya dengan keyakinan yang tidak berlebihan dan
tidak mengingkari yang tidak mengamalkannya adalah sikap yang paling hati-hati.
VI. AMALAN-AMALAN YANG TIDAK MEMILIKI DASAR SHAHIH
Penting bagi para penyuluh agama untuk meluruskan
berbagai amalan yang dikaitkan dengan hari Asyura namun tidak memiliki landasan
dalil yang shahih, bahkan sebagiannya merupakan hadits maudhu' (palsu). Di
antara amalan-amalan tersebut adalah:
9.
Berpakaian
baru pada hari Asyura: Tidak ada dalil shahih yang menganjurkan hal ini.
10.
Mandi
dengan keyakinan tertentu di hari Asyura: Tidak ada hadits shahih yang
menetapkan kesunnahannya.
11.
Berkabung
dan meratap pada hari Asyura (praktik sebagian golongan Syi'ah atas kematian
Husain bin Ali RA): Hal ini jelas menyimpang dari syariat dan tidak dibenarkan
dalam Islam Ahlussunnah wal Jama'ah. Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
menegaskan bahwa meratap, memukul diri, dan bersedih secara berlebihan pada
hari ini adalah bid'ah yang tidak ada dasarnya. (Ibnu Taimiyyah, Minhaj
As-Sunnah, Juz IV, hlm. 554).
12.
Membuat
makanan khusus dengan ritual tertentu: Tidak ada dalil khusus yang menetapkan
amalan ini.
13.
Shalat
khusus Asyura dengan rakaat dan bacaan tertentu: Hadits-hadits yang menyebutkan
shalat khusus Asyura seluruhnya berstatus maudhu' (palsu). Imam Ibnu Al-Jauzi
memasukkannya dalam kitab Al-Maudhu'at.
VII. METODE PENULISAN
Artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan
(library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Sumber data primer
yang digunakan adalah kitab-kitab hadits induk (kutub as-sittah) yaitu Shahih
Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i,
dan Sunan Ibnu Majah, serta Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Sumber data sekunder
meliputi kitab-kitab syarah (penjelasan) hadits seperti Fath Al-Bari karya Ibnu
Hajar Al-Asqalani, Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi, serta karya-karya
ulama klasik dan kontemporer yang mu'tabar.
VIII. PANDUAN PENYULUHAN TENTANG ASYURA
8.1 Poin-Poin Utama yang Perlu
Disampaikan
14.
Muharram
adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT sebagai salah satu dari empat bulan
haram.
15. Hari Asyura (10
Muharram) memperingati peristiwa agung penyelamatan Nabi Musa AS, bukan
merupakan hari berkabung.
16. Amalan shahih utama
adalah puasa Asyura yang menghapus dosa setahun lalu, ditambah puasa tanggal 9
Muharram (Tasu'a) untuk menyelisihi kaum Yahudi.
17. Dianjurkan memperluas
nafkah keluarga pada hari Asyura (dengan catatan keshahihan hadits yang telah
dijelaskan).
18. Luruskan
amalan-amalan yang tidak memiliki dasar shahih dengan cara yang bijaksana
(hikmah) dan penuh kasih sayang.
19. Dorong umat untuk
memanfaatkan bulan Muharram sebagai momentum peningkatan ibadah secara umum.
8.2 Tata Cara Pelaksanaan Puasa Asyura
20.
Niat puasa Asyura dilakukan pada malam hari
(sebelum Subuh). Namun berbeda dengan puasa Ramadhan, puasa sunnah boleh
berniat sebelum zawal (sebelum matahari tergelincir/waktu Dhuhur) selama belum
makan, minum, atau melakukan pembatal puasa. Hal ini
berdasarkan hadits riwayat Muslim No. 1154.
21.
Berpuasa
penuh sejak terbit fajar (Subuh) hingga terbenam matahari (Maghrib) sebagaimana
puasa pada umumnya.
22.
Dianjurkan
pula untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah pada
hari tersebut.
IX. KESIMPULAN DAN SARAN
9.1 Kesimpulan
Berdasarkan kajian terhadap dalil-dalil dari Al-Qur'an
dan hadits-hadits shahih, dapat disimpulkan bahwa:
23.
Bulan
Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT,
dan puasa di bulan ini adalah puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan.
24.
Hari
Asyura (10 Muharram) memiliki keistimewaan historis berkaitan dengan
penyelamatan Nabi Musa AS, dan amalan utamanya adalah puasa yang dapat
menghapus dosa setahun yang lalu.
25.
Amalan
yang paling dianjurkan adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan
Asyura) untuk menyelisihi tradisi kaum Yahudi.
26.
Berbagai
amalan yang tidak memiliki landasan dalil shahih harus diluruskan dengan
bijaksana agar umat Islam dapat mengamalkan ajaran yang benar dan murni.
9.2 Saran
27.
Para
penyuluh agama diharapkan menyampaikan informasi yang benar tentang keutamaan
Asyura berdasarkan dalil-dalil shahih kepada masyarakat.
28. Luruskan pemahaman
yang menyimpang dengan pendekatan yang santun, ilmiah, dan mengutamakan
persatuan umat.
29. Dorong masyarakat
untuk menjadikan momen Muharram sebagai momentum evaluasi diri (muhasabah) dan
peningkatan kualitas ibadah secara menyeluruh.
DAFTAR REFERENSI
A. Al-Qur'an Al-Karim
Al-Qur'an Al-Karim. Surah At-Taubah: 36. Kementerian
Agama RI, Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an.
B. Kitab Hadits Primer
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (w. 256 H). Shahih
Al-Bukhari (Al-Jami' Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah
SAW wa Sunanihi wa Ayyamihi). Dar Thouq An-Najah. (Hadits No. 2002, 2004, 2006,
3397).
Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi.
(w. 261 H). Shahih Muslim. Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, Beirut. (Hadits No.
1125, 1130, 1132, 1134, 1154, 1162, 1163).
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats. (w. 275 H). Sunan
Abu Dawud. Al-Maktabah Al-'Ashriyyah, Beirut.
Ahmad bin Hanbal. (w. 241 H). Musnad Al-Imam Ahmad bin
Hanbal. Muassasah Ar-Risalah, Beirut.
Al-Baihaqi, Ahmad bin Al-Husain. (w. 458 H). Syu'ab
Al-Iman. Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, Beirut.
C. Kitab Tafsir, Syarah Hadits, dan Fiqih
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (w. 774 H). Tafsir
Al-Qur'an Al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir). Dar Thayyibah lin-Nasyr wat-Tauzi'.
Juz IV.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (w. 676 H). Al-Minhaj
Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, Beirut. Juz
VIII.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (w. 676 H). Al-Majmu'
Syarh Al-Muhaddzab. Dar Al-Fikr, Beirut. Juz VI.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. (w. 852 H).
Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Dar Al-Ma'rifah, Beirut. Juz IV.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. (w. 852 H).
Tabyin Al-'Ujab bima Warada fi Syahri Rajab. Dar Al-Bashair Al-Islamiyyah.
Ibnu Rajab Al-Hanbali, Abdurrahman bin Ahmad. (w. 795
H). Latha'if Al-Ma'arif fima li Mawasim Al-'Am min Al-Wadha'if. Dar Ibnu
Katsir, Damaskus.
Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. (w. 728 H).
Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah. Muassasah Qurthubah. Juz IV.
Ibnu Al-Jauzi, Abdul Rahman bin Ali. (w. 597 H).
Al-Maudhu'at. Al-Maktabah As-Salafiyyah, Madinah. Juz II.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. (w. 1420 H). Irwa'
Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil. Al-Maktab Al-Islami, Beirut.
Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. (w. 620 H).
Al-Mughni. Dar 'Alam Al-Kutub, Riyadh. Juz III.
D. Karya Ulama Kontemporer
Al-Qaradhawi, Yusuf. (2001). Fiqh As-Shiyam. Maktabah
Wahbah, Kairo.
Salim bin Ied Al-Hilali. (2002). Bahjah An-Nadhirin
Syarh Riyadhis-Shalihin. Dar Ibnu Al-Jauzi, Dammam.
Kementerian Agama RI. (2019).
Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Jakarta.
Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an. (2012). Tafsir Al-Qur'an Tematik. Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, Jakarta.

0 comments