-->
    BLANTERORBITv102

    KEUTAMAAN HARI ASYURA (10 MUHARRAM) DAN AMALAN-AMALAN YANG DISYARIATKAN

    Kamis, 25 Juni 2026

    Baca Juga

     


    Karya ini dibuat oleh Danang Adi Widodo Putro, S.H.

    Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Pringsurat

    ABSTRAK

    Artikel ini mengkaji keutamaan hari Asyura pada tanggal 10 Muharram dalam perspektif Islam berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih. Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam, dengan sejarah panjang yang dimulai sejak masa Nabi Musa AS hingga Nabi Muhammad SAW. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman yang komprehensif dan berbasis dalil yang shahih mengenai amalan-amalan yang dianjurkan pada hari tersebut, khususnya puasa Asyura yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu, serta memurnikan pemahaman umat dari praktik-praktik bid'ah yang tidak memiliki landasan syariat. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dengan mengacu pada kitab-kitab hadits primer seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan karya-karya ulama terpercaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa amalan utama yang shahih pada 10 Muharram adalah puasa, dengan dianjurkan menambah puasa tanggal 9 (Tasu'a) atau 11 Muharram untuk membedakan dari tradisi kaum Yahudi.

    Kata Kunci: Asyura, 10 Muharram, Puasa Asyura, Amalan Shahih, Bulan Haram, Tasu'a

    Keywords: Ashura, 10th Muharram, Ashura Fast, Authentic Practices, Sacred Month, Tasu'a

     

    I. PENDAHULUAN

    Bulan Muharram adalah bulan pembuka tahun dalam kalender Hijriyah sekaligus salah satu dari empat bulan haram (bulan-bulan yang dimuliakan) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa keempat bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

    Di dalam bulan Muharram, terdapat satu hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan nama 'Hari Asyura'. Kata Asyura berasal dari bahasa Arab 'asyara' yang berarti sepuluh, merujuk pada hari ke-10 dari bulan Muharram. Hari ini memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi dalam Islam, karena berkaitan dengan peristiwa-peristiwa agung dalam sejarah para nabi dan rasul.

    Artikel ini hadir sebagai panduan ilmiah bagi para penyuluh agama, da'i, dan masyarakat muslim pada umumnya untuk memahami keutamaan hari Asyura secara benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Tidak jarang muncul praktik-praktik keagamaan yang dikaitkan dengan Asyura namun tidak memiliki landasan syariat yang kuat. Oleh karena itu, diperlukan klarifikasi dan penjelasan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW yang shahih.

    1.1 Rumusan Masalah

    Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

    1.      Apa saja keutamaan bulan Muharram dan hari Asyura berdasarkan dalil-dalil shahih?

    2.      Bagaimana sejarah dan latar belakang pensyariatan puasa Asyura?

    3.      Amalan-amalan apa saja yang shahih pada hari Asyura?

    4.      Bagaimana cara memurnikan pemahaman umat dari amalan-amalan yang tidak memiliki dasar syariat?

    1.2 Tujuan Penulisan

    Artikel ini bertujuan untuk:

    5.      Memberikan pemahaman yang benar dan komprehensif tentang keutamaan hari Asyura.

    6.      Menjelaskan amalan-amalan yang memiliki landasan dalil shahih pada hari Asyura.

    7.      Menjadi referensi ilmiah bagi penyuluh agama dalam menyampaikan materi tentang Muharram.

    8.      Meluruskan kesalahpahaman yang beredar di masyarakat terkait amalan-amalan pada hari Asyura.

    II. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN DALIL

    2.1 Keutamaan Bulan Muharram dalam Al-Qur'an

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah (9): 36:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعٌ حُرُمٌ

    (Q.S. At-Taubah: 36)

    Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (yang dimuliakan)."

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keempat bulan haram tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Keistimewaan bulan-bulan ini adalah larangan untuk berperang di dalamnya (kecuali dalam kondisi darurat) serta keutamaan ibadah yang berlipat ganda. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Juz IV, hlm. 146).

    2.2 Keutamaan Muharram dalam Hadits Shahih

    Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan puasa di bulan Muharram:

    أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

    "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram (Syahrullah/Bulan Allah)." (H.R. Muslim, No. 1163; dari Abu Hurairah RA)

    Penyebutan bulan Muharram dengan istilah 'Syahrullah' (bulan Allah) menunjukkan keistimewaan dan kemuliaan bulan ini di atas bulan-bulan lainnya. Para ulama menjelaskan bahwa penisbatan bulan Muharram kepada Allah adalah penisbatan kemuliaan (idhafat tasyrif), sebagaimana penyebutan 'Baitullah' untuk Ka'bah. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Juz VIII, hlm. 55).

    III. SEJARAH DAN LATAR BELAKANG HARI ASYURA

    3.1 Asyura pada Masa Nabi Musa AS

    Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah SAW pun menanyakan alasan mereka berpuasa, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang shahih:

    Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: "Nabi SAW datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: 'Hari apa ini kalian berpuasa?' Mereka menjawab: 'Ini adalah hari yang agung, pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun beserta pasukannya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur, maka kami pun berpuasa.' Kemudian Rasulullah SAW bersabda: 'Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.' Maka Rasulullah berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu." (H.R. Bukhari, No. 2004 dan Muslim, No. 1130)

    Hadits ini menegaskan bahwa puasa Asyura memiliki akar sejarah yang panjang sejak masa Nabi Musa AS, dan Islam meneguhkan kembali tradisi mulia ini sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat keselamatan yang Allah berikan kepada Nabi Musa dan Bani Israil.

    3.2 Asyura pada Masa Jahiliyah dan Awal Islam

    Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa orang-orang Quraisy pada zaman jahiliyah juga telah berpuasa pada hari Asyura, dan Rasulullah SAW pun berpuasa pada hari itu sebelum Islam datang. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Setelah turun kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah SAW menjadikan puasa Asyura sebagai puasa yang bersifat sunnah (tidak wajib), sehingga siapa yang mau boleh berpuasa dan siapa yang tidak mau boleh meninggalkannya. (H.R. Bukhari, No. 2002 dan Muslim, No. 1125).

    3.3 Peristiwa-Peristiwa Agung pada Hari Asyura

    Para ulama menyebutkan sejumlah peristiwa agung yang terjadi pada hari Asyura berdasarkan riwayat-riwayat yang kuat, di antaranya:

             Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah Laut Merah, dan menenggelamkan Fir'aun beserta tentaranya.

             Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS pada hari ini (berdasarkan sebagian riwayat yang perlu dikritisi sanadnya secara berhati-hati).

             Nabi Nuh AS beserta orang-orang beriman diselamatkan dari banjir besar, dan bahtera Nuh berlabuh di Bukit Judi (berdasarkan riwayat Ibnu Abbas yang dinilai mursal).

    Catatan penting: Sebagian riwayat tentang peristiwa-peristiwa tersebut di atas perlu diteliti tingkat keshahihannya. Yang paling kuat berdasarkan hadits-hadits dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS dari Fir'aun. Ulama hadits seperti Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya 'Latha'if Al-Ma'arif' menegaskan hal ini.

    IV. KEUTAMAAN PUASA ASYURA DAN DALIL-DALILNYA

    4.1 Keutamaan Menghapus Dosa Setahun

    Salah satu keutamaan terbesar puasa Asyura adalah kemampuannya menghapus dosa setahun yang lalu. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

    صيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفّر السّنة التي قبله

    "Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah bahwa itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu." (H.R. Muslim, No. 1162; dari Abu Qatadah RA)

    Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa-dosa besar. Adapun dosa-dosa besar hanya dapat dihapus dengan taubat nasuha. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: 'Ini adalah penghapusan dosa-dosa kecil, dan ini adalah keistimewaan yang sangat agung.' (An-Nawawi, Al-Majmu', Juz VI, hlm. 381).

    4.2 Puasa Asyura Sebagai Puasa Sunnah Terbaik Setelah Ramadhan

    Rasulullah SAW menjadikan puasa Asyura sebagai puasa sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan dalam riwayat dikatakan bahwa beliau SAW sangat bersemangat dalam melaksanakan puasa ini. Ibnu Abbas RA berkata:

    "Aku tidak pernah melihat Nabi SAW sangat bersemangat untuk berpuasa pada suatu hari yang melebihi hari Asyura ini dan pada bulan Ramadhan." (H.R. Bukhari, No. 2006 dan Muslim, No. 1132)

    V. AMALAN-AMALAN SHAHIH PADA HARI ASYURA

    5.1 Puasa 10 Muharram (Asyura)

    Puasa pada hari Asyura adalah amalan utama yang paling shahih dan paling dianjurkan. Hukumnya adalah sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Puasa ini dapat dilakukan oleh setiap muslim yang mampu, dan keutamaannya telah dijelaskan dalam hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

    5.2 Puasa Tasu'a (9 Muharram) - Sangat Dianjurkan

    Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram bersama puasa Asyura, sebagaimana tertuang dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

    لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع والعاشر

    "Apabila aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (bersama hari kesepuluh)." (H.R. Muslim, No. 1134)

    Para ulama menjelaskan hikmah penambahan puasa tanggal 9 Muharram adalah untuk menyelisihi (mukhalafah) kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam 'Latha'if Al-Ma'arif' menyebutkan bahwa terdapat tiga tingkatan puasa Asyura: yang paling sempurna adalah berpuasa tiga hari (9, 10, 11 Muharram), kemudian berpuasa dua hari (9 dan 10), dan yang paling minimal adalah berpuasa pada tanggal 10 saja.

    5.3 Puasa Tanggal 11 Muharram

    Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Qudamah menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 11 Muharram juga, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Baihaqi: 'Puasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.' Meskipun hadits ini diperdebatkan keshahihannya, namun berpuasa tanggal 11 Muharram sebagai pelengkap tidaklah mengapa berdasarkan kaidah ihtiyath (kehati-hatian) dalam beribadah.

    5.4 Memperbanyak Ibadah dan Dzikir

    Selain puasa, pada hari Asyura dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan ibadah lainnya secara umum, mengingat bulan Muharram adalah bulan yang mulia. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: 'Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.' (H.R. Muslim, No. 1163). Amalan tersebut meliputi shalat sunnah, tilawah Al-Qur'an, bersedekah, berdzikir, dan berdoa.

    5.5 Memperluas Nafkah bagi Keluarga

    Terdapat hadits yang menyebutkan keutamaan memperluas pemberian nafkah kepada keluarga pada hari Asyura:

    "Barangsiapa yang melapangkan (menambah) nafkah bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu." (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman, dan dishahihkan oleh sebagian ulama seperti Sufyan Ats-Tsauri)

    Catatan: Hadits tentang melapangkan nafkah keluarga pada hari Asyura memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan (syawahid). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam 'Tabyin Al-'Ujab' menyatakan bahwa hadits ini memiliki jalur yang banyak meski masing-masing lemah, namun ketika dikumpulkan bisa saling menguatkan hingga mencapai derajat hasan li ghairihi. Namun sebagian ulama lain seperti Syaikh Al-Albani mendhaifkannya. Oleh karena itu, mengamalkannya dengan keyakinan yang tidak berlebihan dan tidak mengingkari yang tidak mengamalkannya adalah sikap yang paling hati-hati.

    VI. AMALAN-AMALAN YANG TIDAK MEMILIKI DASAR SHAHIH

    Penting bagi para penyuluh agama untuk meluruskan berbagai amalan yang dikaitkan dengan hari Asyura namun tidak memiliki landasan dalil yang shahih, bahkan sebagiannya merupakan hadits maudhu' (palsu). Di antara amalan-amalan tersebut adalah:

    9.      Berpakaian baru pada hari Asyura: Tidak ada dalil shahih yang menganjurkan hal ini.

    10.  Mandi dengan keyakinan tertentu di hari Asyura: Tidak ada hadits shahih yang menetapkan kesunnahannya.

    11.  Berkabung dan meratap pada hari Asyura (praktik sebagian golongan Syi'ah atas kematian Husain bin Ali RA): Hal ini jelas menyimpang dari syariat dan tidak dibenarkan dalam Islam Ahlussunnah wal Jama'ah. Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa meratap, memukul diri, dan bersedih secara berlebihan pada hari ini adalah bid'ah yang tidak ada dasarnya. (Ibnu Taimiyyah, Minhaj As-Sunnah, Juz IV, hlm. 554).

    12.  Membuat makanan khusus dengan ritual tertentu: Tidak ada dalil khusus yang menetapkan amalan ini.

    13.  Shalat khusus Asyura dengan rakaat dan bacaan tertentu: Hadits-hadits yang menyebutkan shalat khusus Asyura seluruhnya berstatus maudhu' (palsu). Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkannya dalam kitab Al-Maudhu'at.

    VII. METODE PENULISAN

    Artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab-kitab hadits induk (kutub as-sittah) yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah, serta Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Sumber data sekunder meliputi kitab-kitab syarah (penjelasan) hadits seperti Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi, serta karya-karya ulama klasik dan kontemporer yang mu'tabar.

    VIII. PANDUAN PENYULUHAN TENTANG ASYURA

    8.1 Poin-Poin Utama yang Perlu Disampaikan

    14.  Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT sebagai salah satu dari empat bulan haram.

    15.  Hari Asyura (10 Muharram) memperingati peristiwa agung penyelamatan Nabi Musa AS, bukan merupakan hari berkabung.

    16.  Amalan shahih utama adalah puasa Asyura yang menghapus dosa setahun lalu, ditambah puasa tanggal 9 Muharram (Tasu'a) untuk menyelisihi kaum Yahudi.

    17.  Dianjurkan memperluas nafkah keluarga pada hari Asyura (dengan catatan keshahihan hadits yang telah dijelaskan).

    18.  Luruskan amalan-amalan yang tidak memiliki dasar shahih dengan cara yang bijaksana (hikmah) dan penuh kasih sayang.

    19.  Dorong umat untuk memanfaatkan bulan Muharram sebagai momentum peningkatan ibadah secara umum.

    8.2 Tata Cara Pelaksanaan Puasa Asyura

    20.  Niat puasa Asyura dilakukan pada malam hari (sebelum Subuh). Namun berbeda dengan puasa Ramadhan, puasa sunnah boleh berniat sebelum zawal (sebelum matahari tergelincir/waktu Dhuhur) selama belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim No. 1154.

    21.  Berpuasa penuh sejak terbit fajar (Subuh) hingga terbenam matahari (Maghrib) sebagaimana puasa pada umumnya.

    22.  Dianjurkan pula untuk memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah pada hari tersebut.

    IX. KESIMPULAN DAN SARAN

    9.1 Kesimpulan

    Berdasarkan kajian terhadap dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih, dapat disimpulkan bahwa:

    23.  Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, dan puasa di bulan ini adalah puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan.

    24.  Hari Asyura (10 Muharram) memiliki keistimewaan historis berkaitan dengan penyelamatan Nabi Musa AS, dan amalan utamanya adalah puasa yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

    25.  Amalan yang paling dianjurkan adalah berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram (Tasu'a dan Asyura) untuk menyelisihi tradisi kaum Yahudi.

    26.  Berbagai amalan yang tidak memiliki landasan dalil shahih harus diluruskan dengan bijaksana agar umat Islam dapat mengamalkan ajaran yang benar dan murni.

    9.2 Saran

    27.  Para penyuluh agama diharapkan menyampaikan informasi yang benar tentang keutamaan Asyura berdasarkan dalil-dalil shahih kepada masyarakat.

    28.  Luruskan pemahaman yang menyimpang dengan pendekatan yang santun, ilmiah, dan mengutamakan persatuan umat.

    29.  Dorong masyarakat untuk menjadikan momen Muharram sebagai momentum evaluasi diri (muhasabah) dan peningkatan kualitas ibadah secara menyeluruh.

    DAFTAR REFERENSI

    A. Al-Qur'an Al-Karim

    Al-Qur'an Al-Karim. Surah At-Taubah: 36. Kementerian Agama RI, Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an.

    B. Kitab Hadits Primer

    Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (w. 256 H). Shahih Al-Bukhari (Al-Jami' Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah SAW wa Sunanihi wa Ayyamihi). Dar Thouq An-Najah. (Hadits No. 2002, 2004, 2006, 3397).

    Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi. (w. 261 H). Shahih Muslim. Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, Beirut. (Hadits No. 1125, 1130, 1132, 1134, 1154, 1162, 1163).

    Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats. (w. 275 H). Sunan Abu Dawud. Al-Maktabah Al-'Ashriyyah, Beirut.

    Ahmad bin Hanbal. (w. 241 H). Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Muassasah Ar-Risalah, Beirut.

    Al-Baihaqi, Ahmad bin Al-Husain. (w. 458 H). Syu'ab Al-Iman. Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, Beirut.

    C. Kitab Tafsir, Syarah Hadits, dan Fiqih

    Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (w. 774 H). Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir). Dar Thayyibah lin-Nasyr wat-Tauzi'. Juz IV.

    An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (w. 676 H). Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, Beirut. Juz VIII.

    An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. (w. 676 H). Al-Majmu' Syarh Al-Muhaddzab. Dar Al-Fikr, Beirut. Juz VI.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. (w. 852 H). Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Dar Al-Ma'rifah, Beirut. Juz IV.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. (w. 852 H). Tabyin Al-'Ujab bima Warada fi Syahri Rajab. Dar Al-Bashair Al-Islamiyyah.

    Ibnu Rajab Al-Hanbali, Abdurrahman bin Ahmad. (w. 795 H). Latha'if Al-Ma'arif fima li Mawasim Al-'Am min Al-Wadha'if. Dar Ibnu Katsir, Damaskus.

    Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdul Halim. (w. 728 H). Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah. Muassasah Qurthubah. Juz IV.

    Ibnu Al-Jauzi, Abdul Rahman bin Ali. (w. 597 H). Al-Maudhu'at. Al-Maktabah As-Salafiyyah, Madinah. Juz II.

    Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. (w. 1420 H). Irwa' Al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar As-Sabil. Al-Maktab Al-Islami, Beirut.

    Ibnu Qudamah, Abdullah bin Ahmad. (w. 620 H). Al-Mughni. Dar 'Alam Al-Kutub, Riyadh. Juz III.

    D. Karya Ulama Kontemporer

    Al-Qaradhawi, Yusuf. (2001). Fiqh As-Shiyam. Maktabah Wahbah, Kairo.

    Salim bin Ied Al-Hilali. (2002). Bahjah An-Nadhirin Syarh Riyadhis-Shalihin. Dar Ibnu Al-Jauzi, Dammam.

    Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Jakarta.

    Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. (2012). Tafsir Al-Qur'an Tematik. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Jakarta.